Catatan Ramadhan



Kajian sebelum berbuka di salah satu masjid daerah Undip.

     Ramadhan kali ini terasa berbeda, jelas berbeda untuk pertama kalinya. Kira-kira sudah 10 hari Ramadhan tahun ini berlangsung, dan belum pernah mendengar ada suara yang memanggil "ry, bangun sahur!", Kecuali hanya sebuah ringtone dari handphone yang menandakan telfon masuk dari rumah. Sahur pertama pun kelewatan, entah disibukkan oleh apa dimalam pertama Ramadhan. Saat bangun, sesaat aku mengecek jam di handphone-ku yang menunjukkan pukul 4.40an. yap, jelas kelewatan. Tidak ada lagi tidur lagi setelah bangun untuk sahur kecuali berani mengambil resiko kebablasan. 
     Beberapa hari lalu, aku mendapatkan nasi bungkus dari panitia salah satu masjid sekitar Undip saat berbuka puasa. Aku membawanya untuk dimakan di kos setelah shalat maghrib. Aku membuka bungkus nasi itu dengan semangat tinggi sebagaimana wajarnya anak kos yang sangat bahagia karena dapat makan gratis. Potongan ayam yang menurutku terhitung besar, lalapan, serta sambal, dan tentunya ya nasi putih, siap di sikat oleh mahasiswa kelaparan ini. Sesaat aku memakan nasi tersebut sambil melamun, dan saat aku tersadar, Aku menengok ke kiri dan kanan, melihat di sekitar kamar kosku, ya inilah adanya. Sendirian. Yang terlihat hanya dipan yang diatasnya berserakan kertas-kertas yang gajelas,  Meja belajar yang berantakan, lemari baju dengan cermin yang kutengok memperlihatkan diriku sendiri dengan tangan yang belepotan nasi. Ya beginilah, entah kenapa terasa sangat sepi. Jelas berbeda, baru kali ini merasakan sepi yang benar sepi saat berbuka. Yang mungkin ini jelas awal, yang mana kedepannya nanti akan menjadi rutinitasku saat jauh dari keluarga. Alhamdulillah, "Telah hilang haus (dahaga), dan urat-urat leher telah basah, serta pahala telah tetap (ditetapkan), Insya Allah".
     Kemarin lusa, setelah lama aku sulit dihubungi oleh keluarga(dan tentunya membuat mereka rindu, akupun juga), akhirnya aku mencoba menelfon mereka. Tentunya mamah yang pertama kali mengangkat telfon, menanyakan kabarku, bercerita tentang warung, kapan pulang, ini, itu, seperti yang sudah-sudah. Tapi, tentunya tiap menelfon selalu punya topik tersendiri. Sampai akhirnya mamah menanyakan sebuah pertanyaan yang sebenarnya ingin juga kutanyakan(aku kalah cepat) "udah dapet brp juz kamu ry?" Lho baru aja mau kutanya eh udah keduluan. "Delapan mah, mamah udah brp?", Jawabku. "Mamah udah sebelas nih, kalo di warung pas gaada yang beli mamah bisa dapet banyak. Disini juga cahayanya kan terang kalo siang, kalo dirumah suka gakebaca ry gelap", Sahutnya (Semoga Allah memanjangkan umurnya dalam ketaatan kepada-Nya). Waduh ternyata anak muda yang tenaganya masih banyak ini kalah sama orang tuanya(dalam semangat beribadah). Apa ya yang menyibukkan anak ini sehingga lupa sama bulan Ramadhan? bulan umatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Pahala berserakan dibulan ini, tapi kenapa malah masih dikuasai oleh kemalasan mas?
     Ya beginilah Ramadhan, tiap Ramadhan memiliki kisahnya sendiri. Ramadhan tahun lalu harap-harap cemas menunggu hasil tes PTN. Ramadhan dua tahun lalu jempol kakiku harus diperban karena kukunya pecah tertiban Gas elpiji 3kg + galau ingin memaksa kuliah asal-asalan atau menunda satu tahun. Ramadhan tahun ini tidak bersama keluarga + kesana kemari mencari masjid penyedia takjil dan makan besar. Meski tiap Ramadhan punya cerita masing-masing, tapi Ramadhan tetap sama. Ia ada untuk kita manfaatkan sebaik-baiknya agar kita bertakwa. ☺

Praktikum IUT Lo Belum Greget Kalo Belum Ngerasain 9 Hal Ini

hore pulang ke jakarta



Menoreh gua dah siap bro



Assalamu’alaikum

     Post yang memiliki jarak lebih pendek dari post sebelumnya. Yha, beginilah lagi menikmati kegabutan yang hqq. Jadi, Alhamdulillah ada kesempatan untuk pulang ke Jakarta sebentar. Walau hati ingin lebih lama di rumah, namun hati yang lain tidak tega meninggalkan kawan yang sedang berjuang untuk bisa pulang sebelum lebaran. Alasan pulang sebenarnya sederhana, disamping untuk pilkada namun juga tentunya rasa rindu yang telah menyesakkan dada. Beberapa orang bilang sayang kepada uang, namun saya sejenak berpikir bahwa uang selamanya bisa dicari namun kehangatan bersama keluarga tak selamanya bisa dirasakan. Entah ini pemikiran atas dasar apa, apa karena kurang berasa karena uang yang digunakan belum punya sendiri.

     Dalam post ini gua mencoba supaya yang membaca bisa menarik beberapa faedah, meskipun belum tahu apakah tulisan ini akan bernilai pragmatis atau hanya ekonomis atau bahkan hedonis. Mungkin beberapa dari pembaca mulai sedikit kesal karena seakan akan dilihat dari tipe tulisan saya ini saya akan membahas sesuatu yang serius. Santai aja santai, gausah tegang. Gua sendiri juga bingung kenapa kata-kata yang gua tulis disini kelihatan sangat formal yha. Langsung saja lah ke kisahnya.

     Dimulai saat memenuhi kata InsyaAllah yang gua ucapkan saat Mas B, anak dari ibu kos, berkata “der, nanti kalo mau pulang mampir rumah dulu ya”. Gua pun meng-InsyaAllah kan, dan selasa pagi sebelum berangkat ke stasiun Tawang gua memenuhi itu. Gua mampir ke rumah mas B pamitan dan juga tetangga nya, Ibu E. yang dulu sangat dekat dengan Abang kandung gua saat mengembara di masa sebelumnya. Saat pamit dengan Mas B hal biasa-biasa saja terjadi, oh iya der salam buat orang rumah, salam buat mas mu ya, hati hati …… dan berbagai ucapan perpisahan lainnya. Perpisahan yang padahal hanya tiga hari. Namun berbeda saat gua pamitan dengan ibu E, ibu E sangat berbeda dengan mas B, waduh mas dery ko ga bilang bilang sih kalo mau pulang, kan ibu jadi ga nyiapin apa apa, besok-besok kalo mau pulang, dua hari sebelumnya bilang ya. Lalu ibu E terlihat sibuk mencari sesuatu yang pada puncaknya menyalami ku dengan ongkos pulang. Ini mas udah maaf ya ibu ga ngasih apa-apa, udah kaya saudara kok, salam sama keluarga ya, sama mas mu tuh. Dan saat sampai dirumah hal ini dikomentari oleh orang tua gua, mamah bilang “ waduh ri kalo mampir pas mau pulang pasti di ongkosin jadi gaenak “, ayah menambahkan tadi pagi “kamu kemarin diongkosin sama ibu yg laundry itu ri? coba ri kamu tiap dua hari sekali pamitan aja supaya gausah dikirimin uang dari sini”, Yah plis. Pantesan anakmu begini *lol*. Jadi, inti dari pra perjalanan pulang gua ini adalah. Gaada. Karena memang sudah menjadi hal yang lumrah bila pamitan bakalan di ongkosin dan bila tidak bakal dicariin. Hanya kita harus tetap menjaga tali silaturahmi ya, terlepas mau diongkosin atau enggak, maksutnya terlepas mau itu cuma sebentar atau lama perginya, ya kabarin. Jangan hilang tanpa alasan lah. Baper si panjul *lol*.

     Setelah gua sampai di Tawang, gua nyariin ND, temen gua yang juga balik ke Jakarta. Ternyata dia udah di dalem kereta. Yaudah. Gua masuk ke kereta juga lah. Kebetulan kami satu gerbong namun beda tempat duduk, kenapa? Karena kalo satu tempat duduk nanti pangku-pangkuan.  Kebetulan di samping ND ini ada mba-mba, sedangkan disamping gua ada bapak-bapak yang memisahkan diri dari gua, dia duduk di kursi lain yang masih kosong deket jendela. Karena di tempat duduk aslinya ini yg deket jendela itu kursi gua. Maaf ya berlibet-libet gini, kalo ada yang kurang dimengerti nanti bisa di tanyakan di sesi tanya jawab. Interaksi gua dengan bapak-bapak ini cuma sebatas angguk-angguk senyum kaya yang di contohin komika Sadana Agung di salah satu penampilan stand up-nya. Interaksi angguk ini hanya berlangsung sebelum semua tempat duduk penuh dan si bapak dengan sepenuh hati duduk di samping gua. Percakapan pun gua mulai, “Turun dimana pak?” bapaknya jawab, “di Jatinegara de”, trus gua jawab “Oh kirain saya di stasiun pak”, enggak deng… gua jawab,”Oh di jatinegara pak”, hukum otomatis dari suatu basa basi memaksa si bapak untuk menanya balik “Sampeyan turun mana?”, gua jawab” Sama pak, jatinegara”. Bapak ini seneng banget ngobrol, dia cerita kalo dia kerja ojek online di pagi hari, lalu siang hari di bengkel moge(Motor gede) jadul, kalo malem ga cape ya narik lagi. Gitu katanya. Dimulai dari cerita-cerita tingkah customer yang ngeselin, “Jadi mas, di grup kami tuh ada list nama customer yang patut di waspadai karena suka bayar kurang dan bahkan ga bayar mas”. Wah makin seru kan nih, dan dia juga pamer foto foto moge jadul di hapenya “Pokoknya kalo mau foto-foto atau liat liat motor antic gitu bisa ke saya mas, nih foto fotonya(sambil ngasih liat fotonya dan nyebut tipe motornya)” sampai pada saat dia bilang “nah ini nih mas cuma ada satu di Indonesia nih”. Walah keren juga nih bapak. Setelah itu kita tukeran nomer wassap dan gua berharap kita takkan pernah jadian. ßkorban FTV. Dan ternyata bapak ini lulusan Teknik Mesin Polines 20 tahun lalu yang dulu namanya masih Politeknik Undip, bapak ini sempat kerja di perusahaan mesin pencetak kayu juga, sebelum main motor antic kaya sekarang. Ujung-ujungnya kami membicarakan pilkada DKI juga, dengan membandikngkan kondisi pilkada di daerah lain. “Masnya pulang dibayarin untuk milih atau pakai ongkos sendiri?” Tanya si bapak. “Saya pakai ongkos sendiri pak”.”wah mas, banyak lho yang dibayari PP untuk milih di daerah-daerah gitu mas”, ya pokoknya entah itu benar atau engga ya, kayanya udah bukan rahasia lagi kalo begitu. <-- Sotau. “saya nih mas, saya mah gapeduli dia dari partai apa, tapi saya liat track recordnya, dia orangnya gimana, kaya pak Presiden dulu saya telusuri mas dari jadi Walikota di solo sampai pemilihan”, omong-omong pak presiden, si bapak jadi membicarakan sebuah mobil. Mobil yang dibicarakan bukan mobil biasa, tapi bekas mobil yang dipakai Pak Jokowi dulu, nama di stnknya masih nama anaknya Pak Presiden, “mas tau mobil itu sebenernya harganya ga seberapa mas, mobil lama itu cuma gara-gara atas namanya aja mas’. Yaa sebenernya bapak ini lebih sering cerita dibanding gua sih yang bingung mau cerita apa. Dan akhirnya kami dipisahkan oleh pemberitahuan bahwa kereta akan berhenti di stasiun Jatinegara. Si Bapak pergi tanpa meninggalkan jejak, karena kebetulan waktuitu sepatunya gak basah dan gak ada tanahnya.

     Mungkin mau ngasih tau aja nih ke pembaca soal faedah dari tulisan ini bahwa sebenernya gaada. Eh ada dong sebenernya, cuman gua gamau kasih tau disini ah biar di analisis sendiri. Buat PR aja ya mungkin, tuliskan faedah dari tulisan ini di komen bawah! Yha sekian. Semoga ini menjadi tulisan yang tidak hanya menghabiskan beberapa menit mu yha…

Wassalamu’alaikum